METODOLOGI GROUNDED THEORY DALAM PENELITIAN EKONOMI ISLAM

26 04 2010

A.     Pengantar

Penelitian-penelitian dalam bidang sosial, terutama bidang ekonomi selama ini lebih banyak menggunakan pendekatan positivistik kuantitatif. Sebagian besar peneliti ekonomi beranggapan bahwa pendekatan ini dianggap lebih canggih, lebih baik dibandingkan dengan pendekatan kualitatif. Sehingga mereka beranggapan bahwa penelitian dengan pendekatan kualitatif tidak obyektif dan diragukan kebenarannya.
Namun sejalan dengan waktu serta munculnya ilmu-ilmu baru seperti ekonomi Islam maka pendekatan kualitatif memdapatkan tempat tersendiri. Menurut Jensen dalam Dedy (2001) berkembangnya pendekatan kualitatif dipicu oleh dua kondisi.

Pertama, dilihat dari sisi internal komunitas ilmiah : banyak pakar yang mempertanyakan kemampuan ekplanasi dari pendekatan empiris konvensional dalam ilmu-ilmu sosial. Ada banyak isu-isu penelitian tidak cukup dimaknai melalui metode positivistik kuantitatif.

Kedua, dilihat dari kondisi eksternal komunitas ilmiah : Perkembangan ilmu sering kali berkaitan dengan perubahan dalam bidang sosioekonomi yang lebih luas, sehingga pendekatan kualitatif diperlukan untuk beradaptasi dengan realitas sosial yang baru yang sering kali disebut dengan masyarakat paska industri dan masyarakat informasi. Hal inilah yang kemudian menuntut pencarian teori-teori dan metode-metode baru yang lebih konstektual untuk memahami kompleksitas sosial budaya serta perubahannya.

Para peneliti berkeyakinan bahwa metodologi positivistik, tidak mampu untuk meningkatkan pengetahuan dalam bidang ekonomi yang ‘meloncat’ sedemikian rupa karena perubahan realitas sosial diatas, apalagi dalam kajian ekonomi Islam yang dianggap sebagi ilmu yang relatif baru. Harus diakui sebagian teori ekonomi Islam (jika dianggap sudah ada) merupakan produk yang diderivasikan dari ilmu ekonomi konvensional yang sangat dipengaruhi oleh budaya, serta cara pandang masyarakat barat. Oleh karena itu perlu dibangun teori ekonomi Islam yang “truly islamic” yang dibangun dari cara pandang Islam, visi Islam (Haneef, 1997). Oleh karena itu untuk membangun teori ekonomi Islam mustahil dilakukan melalui pendekatan positivistik. Untuk membangun teori ekonomi Islam perlu dilakukan teoritisasi atas data empiris, yang tidak dapat dilakukan dengan hanya sekedar memberi kode angka terhadap simbol-simbol serta dinamika pelaku ekonomi Islam. Penelitian ekonomi Islam ini tidak dapat dilakukan dalam kondisi ‘laboratorium’ serta simulasi yang sangat positivistik.

Salah satu metodologi penelitian kualititatif yang cukup populer di ilmu-ilmu sosial (kecuali di bidang ekonomi tentunya) adalah grounded theory. Grounded theory dikembangkan pertama kali oleh Barney Glaser dan Anselm Strauss pada tahun 1960an. Grounded theory merupakan metodologi untuk menciptakan teori secara induktif (Paton, 1990). Glaser dan Strauss dalam tulisannya The Discovery of Grounded Theory (1967) secara khusus mengatakan tujuan grounded theory adalah agar peneliti ilmu-ilmu sosial memiliki kemampuan untuk menciptakan teori (Glaser dalam Douglas, 2004). Menurut Glaser grounded theory adalah teori yang diperoleh secara induktif dari penelitian tentang fenomena yang dijelaskannya. Karenanya teori ini ditemukan, disusun dan dibuktikan untuk sementara melalui pengumpulan data yang sistematis dan analisis data yang berkenaan dengan fenomena itu (Strauss & Corbin, 2003). Jadi penekananya pada pendekatan sistematis ketika mengumpulkan data, penanganan data serta analisis data.

Bagian bab ini bertujuan untuk menyumbang sedikit pemikiran tentang penelitian di bidang ekonomi islam melalui metodologi yang grounded theory. Dengan tetap mempertimbangkan aspek kredibilitas penelitian.

B.     Penelitian Ekonomi Islam dan Grounded Theory

Ekonomi Islam sendiri merupakan implementasi ilmu ekonomi dalam kehidupan riil baik bagi individu, keluarga, kelompok masyarakat maupun pemerintah serta sesuai dengan hukum Allah (sunatullah). Jadi dilihat dari kacamata sosial, riset ekonomi Islam memiliki kesamaan atas obyek yang diteliti. Yaitu adanya aktor (pelaku), perilaku, serta adanya interaksi antar aktor. Yang membedakan adalah adanya ketundukan atas hukum Allah yang terdapat dalam Al Qur’an serta Sunnah Nabi. Apapun jenis riset kualitatif termasuk juga grounded theory tidak boleh mengabaikan peran aktor baik didalam komunitas maupun diluar komunitas yang akan saling mempengaruhi terhadap interaksi aktor tersebut termasuk bagaimana Al Qur’an serta Hadist akan mempengaruhi cara pandang serta tindakan yang dilakukan oleh aktor tersebut.

Suatu design penelitian yang digunakan, oleh karena itu harus mampu mengetahui perilaku aktor yang terlibat dari baik cara pandangnya, interprestasinya, dinamikanya serta atribut interaksinya. Grounded theory memiliki keunggulan dalam hal mampu meneliti secara lebih dalam dan detail atas realitas tersebut. Grounded theory mampu mewadahi penelitian ekonomi Islam dalam tingkat lingkup yang kecil (mikro). Penyelidikan dilakukan secara detail dan mendalam, bagaimana aktor-aktor ekonomi berperilaku serta interaksi terhadap lingkungan sangat sesuai dengan metodologi grounded theory.

Pertanyaan utama yang muncul adalah apakah hasil penelitian grounded theory dapat dipercaya kebenarannya secara ilmiah? Tafsiran kebenaran itu sendiri berbeda-beda. Positivisme berpendapat bahwa kebenaran sudah ada di sekitar kita, tinggal kita mendapatkannya melalui pengamatan tanpa prasangka. Kebenaran adalah hasil penelitian yang sesuai dengan dunia nyata. Sehingga bagi positivisme, penelitian kuantitatif dianggap lebih obyektif. Sedangkan post positivisme tidak menerima adanya hanya satu kebenaran (Lincoln & Guba dalam Glaser, 2004). Realitas itu tidak hanya satu (single) tetapi multiple realitas, oleh karena itu dalam penelitian kualitatif termasuk grounded theory kebenaran mengandung unsur subyektifitas. Paton (1990) percaya bahwa sifat obyektif dan sifat subyektif tersebut merupakan debat paradigma yang tidak akan habis.

Oleh karena itu menurut Breuer & Reichertz (2001) sekalipun mengandung unsur subyektifitas penelitian kualitatif tersebut harus dapat dipercaya dan memenuhi unsur kredibilitas, karena ukuran kebenaran dalam penelitian kualitatif adalah kredibilitas. Kredibilitas dalam penelitian kualitatif diukur dari beberapa aspek yaitu validitas dan reabilitas, generalisasi, transferabilitas serta konfirmabilitas.
Tentu saja pemaknaan atas validitas dan reabilitas, generalisasi, transferabilitas serta konfirmabilitas akan berbeda dengan metodologi penelitian positivistik (Bergman & Coxon, 2005). Validitas menunjukkan seberapa benar alat ukur yang digunakan peneliti mengukur apa yang akan diukur oleh peneliti.

Dikenal ada dua konsep validitas yaitu validitas internal dan validitas eksternal. Dalam penelitian dengan metodologi grounded theory, validitas internal menunjukkan konsep yang ada pada peneliti dengan konsep yang ada pada aktor. Untuk meningkatkan validitas internal peneliti dapat menggunakan beberapa cara yaitu : memperpanjang waktu penelitian, mengurangi pengaruh pribadi peneliti dengan aktor, melakukan seleksi terhadap aktor yang akan diteliti (Nasution, 2003). Sedangkan validitas ekternal dalam penelitian dengan metodologi grounded theory berkenaan dengan tingkat aplikasi yaitu hingga sejauh mana hasil penelitian juga diaplikasikan untuk kasus lainnya.

Jadi hasil penelitian dengan metodologi grounded theory harus memungkinkan untuk melakukan perbandingan dengan hasil-hasil penelitian lain yang dilakukan oleh peneliti lain (Breuer & Reichertz, 2001). Sehingga dalam validitas eksternal terkandung juga unsur transferabilitas penelitian (Nasution, 2003), sedangkan Lincoln & Guba (dalam Douglas, 2003) menyebutnya dengan istilah generalisasi naturalistik. Oleh karena validitas eksternal tergantung dari sisi pemakai hasil penelitian tersebut maka peneliti tidak dapat menjamin validitas eksternal tersebut, peneliti memandang transferabilitas sebagai suatu kemungkinan. Oleh karena itu peneliti harus memberikan deskripsi yang sangat rinci dan detail bagaimana proses temuan penelitian tersebut. Oleh karena itu tranferabilitas tergantung kepada seberapa besar kesamaan antara situasi penelitian awal dengan situasi dimana akan ditranfer.

Peneliti tidak dapat melakukan transfer atas hasil temuan, tetapi hanya menyediakan informasi yang dapat digunakan peneliti lain untuk melakukan penelitian baru. Paton (1990) menyebut hal ini dengan istilah ektrapolasi.
Dalam penelitian positivistik reabilitas merupakan syarat bagi validitas. Dengan menggunakan alat ukur yang reabel maka akan diperoleh data yang valid. Akan tetapi sama seperti penelitian kualitatif pada umumnya, alat ukur dalam grounded theory adalah peneliti itu sendiri. Secara teoritis dapat saja digunakan dua atau lebih peneliti agar hasilnya dapat diandalkan. Akan tetapi dalam pelaksanaannya memerlukan pertimbangan-pertimbangan khusus yang disebut dengan audit trail (Nasution, 2003). Yaitu peneliti melakukan penelusuran kembali atas temuan penelitian terhadap data mentah (catatatan interview, rekaman, catatan observasi dsb) dan catatan analisis, metode rekontruksi dan sintesis, catatan proses, catatan personal serta tahap perkembangan penelitian (Douglas, 2004). Pada proses ini melekat juga komfirmabilitas atas hasil penelitian dan proses metodologi.

Dengan demikian sesudah dilakukan audit trail memungkinkan peneliti lain untuk melakukan review atas data yang sudah terkumpul serta melakukan analisis ulang. Atas aspek komfirmabilitas tersebut diatas, maka subyektifitas dalam metodologi grounded theory dapat dikurangi bahkan dihilangkan sehingga proses penelitian tersebut dapat memenuhi unsur kredibilitas.

Harus diingat bahwa teori-teori ekonomi Islam yang ada selama ini hanya sekedar melakukan Islamisasi atas ilmu ekonomi konvensional, dan belum dibangun atas realitas empiris sebagaimana ilmu ekonomi konvensional dibangun. Oleh karena itu diperlukan suatu penelitian yang akan melakukan teoritisasi atas data empiris. Sedangkan untuk melakukan teoritisasi atas data paling mudah dilakukan pada wilayah tertentu atau komunitas tertentu yang memiliki ruang lingkup terbatas (mikro) yang kemudian dapat dikembangkan lebih jauh untuk ruang lingkup yang lebih besar (makro). Penelitian atas wilayah atau komunitas tertentu dalam waktu tertentu disebut dengan pendekatan studi kasus.

Metodologi grounded theory sangat tepat untuk melakukan penelitian dengan pendekatan studi kasus. Cara grounded theory menangani data serta intreprestasi data sangat pas dan sesuai dengan penelitian studi kasus (Post & Andrews dalam Douglas, 2004). Menurut mereka, sangat bermanfaat sekali jika menggunakan metodologi grounded theory dalam melakukan analisis kasus. Strauss juga mendukung grounded theory dalam melakukan analisis kasus (Strauss & Corbin, 2003). Dengan demikian dapat muncul teori ekonomi Islam yang grounded.
C.      Penutup

Tulisan ini sekedar sebagai usulan awal bahwa metodologi grounded theory dapat digunakan sebagai alternatif metodologi dalam penelitian ekonomi khususnya ekonomi Islam terutama ketika teori-teori ekonomi Islam belum dibangun atas realitas empiris. Metodologi ini sangat tepat digunakan untuk melakukan penelitian tentang realitas sosial ekonomi dengan melihat aktivitas, dinamika serta interaksi aktor dengan ruang lingkup terbatas (mikro). Tentu saja hasil penelitian dengan metodologi grounded theory diakui kebenarannya secara ilmiah selama tidak meninggalkan aspek-aspek kredibilitas penelitian yang meliputi aspek validitas dan reabilitas, generalisasi, transferabilitas serta konfirmabilitas.
D.       Bahan Bacaan:
Bitsch, Vera. 2000. Agricultural Economics and Qualitative Research : Incompatible Paradigms? Electronic Journal of Forum Qualitative of Social Research. Volume 1, No. 1- Januari 2000.
Breuer, Franz. & Reichertz, Jo. 2001. Standards of Social Research. Electronic Journal of Forum Qualitative of Social Research. Volume 2, No. 3 – September 2001

Dedy Mulayana, 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya

Douglas, David. 2004 Inductive theory generation: A grounded approach to business inquiry. Electronic Journal of Business Research Methods, Volume 2 Oktober 2004

Douglas, David. 2004. Grounded Theory and the ‘And’ in Entrepreneurship Research. Electronic Journal of Business Research Methods Volume 2 Januari 2004

Glaser, Barney G. 1998. Doing Grounded Theory : Issues and Discussions. http://www.groundedtheory.com/soc13.html

Glaser, Barney G. 2001. The Grounded Theory Perspective: Conceptualization Contrasted with Description. http://www.groundedtheory.com/soc14.html
Glaser, Barney G. 2004. Naturalist Inquiry and Grounded Theory. Electronic Journal of Forum Qualitative of Social Research. Vol 5 No. 1 tahun 2004
Haneed, Mohamed. Aslam Mohamed. 1997. Islam, The Islamic Worldview, And Islamic Economics. IIUM : Journal of Economic & Management Vol. 5 No. 1 1997
Manfred Max Bergman & Anthony P.M. Coxon. 2005. The Quality in Qualitative Methods. Electronic Journal of Forum Qualitative of Social Research Volume 6, No. 2, Mei 2005
Nasution, S. 2003. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung : Tarsito
Patton, M. 1990. Qualitative Evaluation and Research Methods. California : Sage Publishing)

Strauss, Anselm. & Corbin, Juliet. 2003. Dasar-Dasar Penelitian Kualitatif. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Susann Kluge. 2000. Empirically Grounded Construction of Types and Typologies in Qualitative Social Research. Electronic Journal of Forum Qualitative of Social Research. Volume 1, No. 1 – 2000,
Sumber:

http://antonpn.blogspot.com/2008_03_01_archive.html


Aksi

Information

One response

16 07 2011
Akuahmadjuga

Menarik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: