ANALISIS RASIONALISTIK TERHADAP VARIABEL-VARIABEL YANG MEMPENGARUHI PERBEDAAN PENENTUAN KADAR ZAKAT

29 04 2010

By Dr. (Cand) Muhaimin, S. Ag, M. I. S.

PENGANTAR

Zakat adalah ibadah yang memiliki dua dimensi yaitu vertikal dan horisontal, yaitu merupakan ibadah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah (vertical) dan sebagai kewajiban kepada sesama manusia (horizontal). Tingkat pentingnya zakat terlihat dari banyaknya ayat (sekitar 82 ayat) yang menyandingkan perintah zakat dengan perintah sholat. Zakat merupakan salah satu ciri dari sistem ekonomi Islam, karena zakat merupakan salah satu implementasi azas keadilan dalam sistem ekonomi Islam.

Makalah ini bertujuan untuk menjawab secara singkat dan padat beberapa poin pertanyaan penting seputar zakat yang akan penulis rumuskan sebagai berikut:

Pertama, apa pengertian zakat secara bahasa dan istilah, apa saja syarat wajib zakat, macam-macam zakat, siapa saja golongan berhak menerima zakat dan kadar zakat yang telah ditetapkan dalam agama. Point ini penting sebagai dasar atau landasan teori untuk memahami dan menganalisis lebih jauh persoalan yang terkait dengan rasionalitas perbedaan penentuan persentasi zakat.

Kedua, bagaimana analisis rasionalistik berdasarkan logika ekonomi dan logika agama terhadap perbedaan penentuan kadar zakat tersebut.

Ketiga, bagaimana kemungkinan perubahan kadar zakat sesuai dengan perkembangan zaman modern.

Ketiga fokus pembahasan di atas akan coba penulis untuk mencarikan jawabannya, yaitu tertuang dalam makalah singkat yang berjudul: ” Analisis Rasionalistik Terhadap Variabel-Variabel Yang Mempengaruhi Perbedaan Penentuan Kadar Zakat “.

DEFINISI ZAKAT

Secara etimologi (asal kata) zakat berasal dari kata zaka yang berarti berkah, tumbuh, bersih, suci, subur dan baik.[1] Dipahami demikian, sebab zakat merupakan upaya menyucikan diri dari kotoran kikir dan dosa. Menyuburkan harta benda apabila dikeluarkan dan disalurkan sesuai ketentuan Allah swt. Firman Allah Swt dalam Surah al-Syams ayat 9:

ô‰s% yxn=øùr& `tB $yg8©.y—

Artinya:

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu”

Dalam pengertian (syara’), zakat adalah penyerahan pemilikan tertentu kepada orang yang berhak menerimanya dengan syarat-syarat tertentu.[2] Zakat diambilkan dari harta orang-orang kaya dan diserahkan kepada orang-orang  berhak seperti golongan fakir, miskin dan golongan lainnya yang termasuk kepada golongan 8 (al-asnaf al-samaniah). Allah Swt berfirman dalam surah al-Taubah ayat 103:

õ‹è{ ô`ÏB öNÏlÎ;ºuqøBr& Zps%y‰|¹ öNèdãÎdgsÜè? NÍkŽÏj.t“è?ur $pkÍ5 Èe@|¹ur öNÎgø‹n=tæ ( ¨bÎ) y7s?4qn=|¹ Ö`s3y™ öNçl°; 3 ª!$#ur ìì‹ÏJy™ íOŠÎ=tæ

Artinya:

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

Juga firman-Nya dalam surah al-Taubah ayat 60:

$yJ¯RÎ) àM»s%y‰¢Á9$# Ïä!#ts)àÿù=Ï9 ÈûüÅ3»|¡yJø9$#ur tû,Î#ÏJ»yèø9$#ur $pköŽn=tæ Ïpxÿ©9xsßJø9$#ur öNåkæ5qè=è% †Îûur É>$s%Ìh9$# tûüÏB̍»tóø9$#ur †Îûur È@‹Î6y™ «!$# Èûøó$#ur È@‹Î6¡¡9$# ( ZpŸÒƒÌsù šÆÏiB «!$# 3 ª!$#ur íOŠÎ=tæ ÒO‹Å6ym

Artinya:

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

SYARAT WAJIB ZAKAT

Terdapat 6 syarat untuk suatu kekayaan terkena wajib zakat, yaitu : 1). Milik penuh, 2). Berkembang, 3). Cukup senisab, 4). Lebih dari kebutuhan biasa, 5). Bebas dari hutang, 6). Berlalu setahun.

Syarat pertama : milik penuh. Istilah “milik penuh” maksudnya adalah bahwa kekayaan itu harus berada di bawah kontrol dan di dalam kekuasaannya. Dengan kata lain, kekayaan itu harus berada di tangannya, tidak tersangkut di dalamnya hak orang lain, dapat ia pergunakan dan faedahnya dapat dinikmatinya. Konsekwensi dari syarat ini tidak wajib zakat bagi :

•  Kekayaan yang tidak mempunyai pemilik tertentu

•  Tanah waqaf dan sejenisnya

• Harta haram. Karena sesungguhnya harta tersebut tidak syah menjadi milik seseorang

• Harta pinjaman. Dalam hal ini wajib zakat lebih dekat kepada sang pemberi hutang (kecuali bila hutang tsb tidak diharapkan kembali). Bagi orang yang meminjam dapat dikenakan kewajiban zakat apabila dia tidak mau atau mengundur-undurkan pembayaran dari harta tsb, sementara dia terus mengambil manfaat dari harta tsb. Dengan kata lain orang yang meminjam telah memperlakukan dirinya sebagai “si pemilik penuh”.

•  Simpanan pegawai yang dipegang pemerintah (seperti dana pensiun). Harta ini baru akan menjadi milik penuh di masa yad, sehingga baru terhitung wajib zakat pada saat itu.

Syarat kedua : berkembang. Pengertian berkembang yaitu harta tersebut senantiasa bertambah baik secara konkrit (ternak dan lain-lain) dan tidak secara konkrit (yang berpotensi berkembang, seperti uang apabila diinvestasikan). Nabi tidak mewajibkan zakat atas kekayaan yang dimiliki untuk kepentingan pribadi seperti rumah kediaman, perkakas kerja, perabot rumah tangga, binatang penarik, dan lain-lain. Karena semuanya tidak termasuk kekayaan yang berkembang atau mempunyai potensi untuk berkembang.  Dengan syarat ini pula, maka jenis harta yang wajib zakat tidak terbatas pada apa yang sering diungkapkan sebahagian ulama yaitu hanya 8 jenis harta (unta, lembu, kambing, gandum, biji gandum, kurma, emas, dan perak). Semua kekayaan yang berkembang merupakan subjek zakat.

Syarat ketiga: cukup senisab. Disyaratkannya nisab memungkinkan orang yang mengeluarkan zakat sudah terlebih dahulu berada dalam kondisi berkecukupan. Tidaklah mungkin syariat membebani zakat pada orang yang mempunyai sedikit harta dimana dia sendiri masih sangat membutuhkan harta tersebut. Dengan demikian pendapat yang mengatakan hasil pertanian tidak ada nisabnya menjadi tertolak

Syarat keempat: lebih dari kebutuhan biasa. Kebutuhan adalah merupakan persoalan pribadi yang tidak bisa dijadikan patokan besar-kecilnya. Kebutuhan harus dibedakan dengan keinginan. Kebutuhan yang dimaksud adalah kebutuhan rutin, yaitu sesuatu yang betul-betul diperlukan untuk kelestarian hidup; seperti halnya belanja sehari-hari, rumah kediaman, pakaian, dan senjata untuk mempertahankan diri, peralatan kerja, perabotan rumah tangga, hewan tunggangan, dan buku-buku ilmu pengetahuan untuk kepentingan keluarga (karena kebodohan dapat berarti kehancuran). Kebutuhan ini berbeda-beda dengan berubahnya zaman, situasi dan kondisi, juga besarnya tanggungan dalam keluarga yang berbeda-beda. Persoalan ini sebaiknya diserahkan kepada penilaian para ahli dan ketetapan yang berwewenang Zakat dikenakan bila harta telah lebih dari kebutuhan rutin. Sesuai dengan ayat 2:219 (“sesuatu yang lebih dari kebutuhan…”) dan juga hadits “zakat hanya dibebankan ke atas pundak orang kaya”, dan hadits-hadits lainnya.

Syarat ke lima: bebas dari hutang. Pemilikan sempurna yang dijadikan persyaratan wajib zakat haruslah lebih dari kebutuhan primer, dan cukup pula senisab yang sudah bebas dari hutang. Bila jumlah hutang akan mengurangi harta menjadi kurang senisab, maka zakat tidaklah wajib. Jumhur ulama berpendapat bahwa hutang merupakan penghalang wajib zakat. Namun apabila hutang itu ditangguhkan pembayarannya (tidak harus sekarang juga dibayarkan), maka tidaklah lepas wajib zakat (seperti halnya hutang karena meng-kredit sesuatu).

Syarat ke enam: berlalu setahun. Maksudnya bahwa pemilikan yang berada di tangan si pemilik sudah berlalu masanya dua belas bulan Qomariyah. Menurut Yusuf Al-Qaradhawy, persyaratan setahun ini hanyalah buat barang yang dapat dimasukkan ke dalam istilah “zakat modal” seperti: ternak, uang, harta benda dagang, dll. Adapun hasil pertanian, buah-buahan, madu, logam mulia (barang tambang), harta karun, dll yang sejenis semuanya termasuk ke dalam istilah “zakat pendapatan” dan tidak dipersyaratkan satu tahun (maksudnya harus dikeluarkan ketika diperoleh). Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para shahabat dan tabi’in mengenai persyaratan “berlalu setahun” ini. Dimana apa pendapat yang mengatakan bahwa zakat wajib dikeluarkan begitu diperoleh bila sampai senisab, baik karena sendiri maupun karena tambahan dari yang sudah ada, tanpa mempersyaratkan satu tahun. Perbedaan ini dikarenakan “tidak adanya satu hadits yang tegas” mengenai persyaratan ini.[3]

ORANG-ORANG YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT

Mengenai orang-orang yang berhak menerima zakat, ada 8 golongan, sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an Surah al-Taubah ayat 60:

$yJ¯RÎ) àM»s%y‰¢Á9$# Ïä!#ts)àÿù=Ï9 ÈûüÅ3»|¡yJø9$#ur tû,Î#ÏJ»yèø9$#ur $pköŽn=tæ Ïpxÿ©9xsßJø9$#ur öNåkæ5qè=è% †Îûur É>$s%Ìh9$# tûüÏB̍»tóø9$#ur †Îûur È@‹Î6y™ «!$# Èûøó$#ur È@‹Î6¡¡9$# ( ZpŸÒƒÌsù šÆÏiB «!$# 3 ª!$#ur íOŠÎ=tæ ÒO‹Å6ym

Artinya:

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Menurut ayat di atas, yang berhak menerima zakat ialah:

1.   Orang fakir: orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya.

2.   Orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan.

3. Pengurus zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat.

4.   Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah.

5.   Memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir.

6.   Orang berhutang: orang yang berhutang Karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya.

7.   Pada jalan Allah (sabilillah): yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. di antara mufasirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan lain-lain.

8. Orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya.[4]

KETENTUAN KADAR ZAKAT

No Jenis Harta Ketentuan Wajib Zakat Ket
Nisab Kadar Waktu
1.
2.
3.

ANALISIS RASIONALISTIK TERHADAP VARIABEL-VARIABEL YANG MEMPENGARUHI PERBEDAAN PENENTUAN KADAR ZAKAT

Sebelum menentukan variabel-variabel yang mempengaruhi perbedaan penentuan kadar zakat, maka perlu kiranya kita mengetahui prinsip-prinsip dasar atau alasan-alasan mendasar penentuan zakat sebagaimana berikut ini:

  1. Semakin sedikit tenaga kerja dan kapital yang digunakan dalam memperoleh pendapatan, maka akan semakin besar jumlah kadar zakatnya. Sebaliknya, semakin besar jumlah tenaga kerja dan kapital, maka semakin kecil kadar zakatnya.
  2. Tidak dikenakan zakat pada objek-objek harta atau benda yang cepat habis atau tidak tahan lama, seperti sayur-sayuran.
  3. Objek-objek yang tidak berpotensi untuk tumbuh atau berkembang, seperti perabot rumah tangga, kuda-kuda tunggangan sehari-hari, rumah tempat tinggal, perkakas, maka tidak dikenakan zakat.
  4. Binatang-binatang yang jarang beranak atau sangat jarang beranak seperti keledai dan gajah, maka tidak dapat dijadikan objek zakat.

Empat alasan di atas dapat menjadi pedoman atau panduan kita untuk menentukan faktor-faktor atau variabel yang menyebabkan kadar zakat itu berbeda. Hal ini senada dengan ungkapan yang dikemukan oleh S.A. Siddiqi, dalam buku Readings in Islamic Fiscal Policy, dia menulis:

“The reason for this differenciation in the matter of different kinds of income is not very difficult to find. The general principles underlying are:

(a)The lesser the amount of labour and capital involved in the accrual of an income, the higher the rate of taxation (zakat) and conversely, therefore, the greater the amount of labour and capital the lesser the rate of the levy. (b)No zakat is charged on things which become perishable in a few days such as vegetables.(c)Things which are not capable of further production and growth, e.g., household effects, horses used for riding, conveyance, residence, instruments, etc., are not subject to zakat. (d) Animals which do not breed or breed very.seldom or after a longtime (e.g., mules, who come under the first category and elephants who fall under the latter division} are not subject to zakat.”[5]

Berdasarkan pada penjelasan di atas, maka variabel atau faktor yang mempengaruhi penentuan kadar zakat dapat dibagi kepada :

  1. Variabel Tenaga Kerja dan Kapital (Labour and Capital)
  2. Variabel Keahlian (Skill)

Variabel pertama, Tenaga Kerja dan Kapital (Labour and Capital). Variabel ini adalah variabel utama yang mempengaruhi perbedaan penentuan kadar zakat menjadi :

  • o Harta terpendam/tambang (a treasure trove/ mines)                       1/5   atau 20%
  • o Harta rampasan perang ( war booty)                                               1/5   atau 20%
  • o Tanah pertanian yang diairi (irrigated land produce)                       1/10 atau 5%
  • o Tanah pertanian yang tidak diairi (unirrigated land produce)           1/20 atau 10%
  • o Emas dan perak (gold and silver)                                                   1/40 atau 2,5 %
  • o Barang perdagangan (articles of trade)                                           1/40 atau 2,5%

Dalam perbedaan jumlah persentasi (%) zakat sebagaimana di atas, faktor Labour dan Capital adalah sangat dominan berpengaruh. Dengan kata lain, dapat  dikatakan bahwa sangat rasionalistis; “Labour dan Capital mempengaruhi perbedaan penentuan rate zakat“. Lebih jauh, bagaimana labour dan capital mempengaruhi perbedaan penentuan rate zakat, dapat penulis berikan penjelasan sebagai berikut:

Pertama, pada zakat harta terpendam, rate zakatnya paling besar yaitu 20%. Hal ini disebabkan oleh karena pengeluaran/pengerahan labour dan capital-nya sangat sedikit sekali, dimana harta terpendam diperoleh secara tiba-tiba (accidently) dan tidak banyak memerlukan labour dan capital. Demikian juga pada zakat harta rampasan perang, dimana harta rampasan perang diperoleh dengan cara tiba-tiba pula (accidently) dan tanpa mengeluarkan banyak labour dan capital. Maka rate zakatnya menjadi lebih besar yaitu 20%, sesuai dengan prinsip: “The lesser the amount of labour and capital involved in the accrual of an income, the higher the rate of taxation (zakat) and conversely, therefore, the greater the amount of labour and capital the lesser the rate of the levy” (Semakin sedikit tenaga kerja dan kapital yang digunakan dalam memperoleh pendapatan, maka akan semakin besar jumlah kadar zakatnya. Sebaliknya, semakin besar jumlah tenaga kerja dan kapital, maka semakin kecil kadar zakatnya).

Kedua, pada zakat hasil tanah pertanian yang diairi (irrigated land produce)  yaitu 1/10 atau 5%, akan berbeda dengan zakat hasil tanah pertanian yang tidak diairi (unirrigated land produce) yaitu 1/20 atau 10%. Perbedaan ini juga dipengaruhi oleh faktor labour dan capital yang dikeluarkan. Dimana pada zakat hasil tanah pertanian yang diairi (irrigated land produce), lebih kecil rate zakatnya yaitu hanya 1/10 atau 5% saja, hal ini karena petani telah mengeluarkan lebih besar labour dan capital untuk mengairi sawahnya. Si petani membutuhkan lebih banyak anak buah dan modal untuk membuat pengairan atau irigasi tadi. Oleh karena itu rate zakatnya menjadi lebih kecil, yaitu 1/10 atau 5 %. Sebaliknya, pada zakat hasil tanah pertanian yang tidak diairi/ tidak diberi irigasi, hanya mendapatkan airnya dari langit atau tadah hujan, berarti petani tidak banyak mengeluarkan labour dan capital. Oleh karena itu, rate zakatnya menjadi lebih besar yaitu 1/20 atau 10%. Hal ini juga sesuai dengan prinsip “The lesser the amount of labour and capital involved in the accrual of an income, the higher the rate of taxation (zakat) and conversely, therefore, the greater the amount of labour and capital the lesser the rate of the levy” (Semakin sedikit tenaga kerja dan kapital yang digunakan dalam memperoleh pendapatan, maka akan semakin besar jumlah kadar zakatnya. Sebaliknya, semakin besar jumlah tenaga kerja dan kapital, maka semakin kecil kadar zakatnya).

Variabel kedua, keahlian (skill). Variabel keahlian (skill) kalau digabung dikumulasikan dengan variabel labour dan capital, maka berarti expenditure untuk memperoleh bertambah beban kesulitannya. Bertambahnya tingkat kesulitan ini akan menurunkan rate zakat yang harus dikeluarkan. Hal ini berlaku pada zakat Emas/perak (gold/silver) dan barang-barang perdagangan (articles of trade) lebih kecil rate zakatnya dibanding dengan rate zakat hasil tanah pertanian dan harta terpendam, yaitu hanya 1/40 atau 2,5%. Hal ini melibatkan tidak hanya faktor labour dan capital saja, melainkan ditambah dengan variabel keahlian (skill). Penjelasannya adalah bahwa akumulasi dan pembuatan emas dan perak prosesnya lebih sulit dan lebih menggunakan tidak hanya labour dan capital, juga membutuhkan keahlian (skill) dibandingkan dengan expenditure dalam menanam padi atau  jagung. Demikian juga halnya dengan seorang pedagang, disamping lebih banyak mengeluarkan capital dan labour, juga memerlukan ‘intelegensi’ untuk mengelola perdagangan, bahkan lebih besar menghadapi resiko kerugian. Oleh karena itu, maka rate zakat emas/perak dan barang-barang perdagangan, lebih kecil dibandingkan yang lainnya, yaitu hanya 1/40 atau 2, 5 % saja. Dan hal ini juga sesuai dengan prinsip “The lesser the amount of labour, capital and skill involved in the accrual of an income, the higher the rate of taxation (zakat) and conversely, therefore, the greater the amount of labour, capital and skill the lesser the rate of the levy” (Semakin sedikit tenaga kerja, capital dan skill yang digunakan dalam memperoleh pendapatan, maka akan semakin besar jumlah kadar zakatnya. Sebaliknya, semakin besar jumlah tenaga kerja, kapital dan keahlian yang dikeluarkan, maka semakin kecil kadar zakatnya).

Dari perhitungan kadar zakat sebagaimana diuraikan di atas, muncul angka-angka ‘arithmetical progression‘ yang sangat rasional yaitu:

1/40

1/20

1/10

1/5

Secara normatif hukum Islam, logika-logika ekonomi di atas, kalau dihubungkan dengan kaidah ushul al-fiqh maka akan sesuai dengan kaidah yang mengatakan :

المشقة تجلب التيسير

“Kesulitan itu akan memberikan konpensasi berupa kemudahan”

Maka kesimpulannya adalah bahwa logika ekonomi dan logika kaidah ushul al-fiqh dalam penentuan kadar zakat adalah saling menguatkan satu sama lain. Rasionalitas dan logika ekonomi sebagaimana diuraikan di atas didukung oleh SA Siddiqi dalam buku Readings in Islamic Fiscal Policy (1996),  dia menulis sebagai berikut:

In fact, all wealth is the result of the application of capital and labour (and direction in industrial enterprises) and it is equitable to pay due regard to the amount of capital and labour expended by an individual as compared with one who has earned an income without much labour and expenditure. Thus, if an individual comes across a treasure trove, he obtains it accidentally and without much labour and expenditure. In such a case, the share of the state should naturally be the maximum ,i.e., 1/5th of the entire find.

The case of war-booty is not different either. According to Islam, a religious war is waged only for the high principle of fighhting for God and Islam and not for the purpose of obtaining wealth. The booty so obtained is really accidental and not the result of deliberate striving for it and as such is considered to have been obtained accidentally and without the expenditure of labour and capital. It is, therefore, liable to be taxed at the maximum rate of 1/5 and on the same level as the treasure trove.

On the other hand, the ploughing of land and making it yield produce or the laying-out of a fruit garden needs considerable labour and capital. Due allowance has to be made for it and. therefore, the rate on the produce of land is 1/l0th. Here too the principle is carried a little further in that difference is made between irrigated and unirrigated land. If the land has been irrigated by the tabour /capital of the cultivator, the rate is fixed at 1/20; whereas if no labour/capital has been employed by the cultivator, i.e., when the land is dependent whollly on rainfall or where it is irrigated free by the canals run by the state, the rate is 1/10th. The difference between 1/10 and 1/20 represents the cost of labour and capital used in irrigating the land.

Further, the rate of zakat of gold , silver and articles of trade is reduced to 1/40th. Here again the same principle operates. The accumulation of gold and silver is more difficult process than the growing of corn. The businessman besides taking risk of loss, applies not only labour and capital in a greater degree, but direction and intelligence as well and it consequently entitled to a greater regard than a cultivator.[6]

Untuk mempermudah memahami uraian di atas, maka penulis dapat simpulkan dalam bentuk tabel berikut:

No Variabel/Faktor Objek Zakat Rate Keterangan
1. Labour dan Capital Harta terpendam/ tambang dan rampasan perang

Irrigated land produce

Unirrigated land produce

1/5 = 20%

1/10 = 5%

1/20 = 10 %

LC­ lebih kecil, menjadikan rate zakat lebih besar

LC lebih besar, menjadikan rate zakat lebih kecil

LC lebih kecil, menjadikan rate zakat lebih besar

2. Keahlian (Skill) Gold/silver

Articles of Trade

1/40 = 2,5 %

1/40 = 2,5 %

LC+S­ lebih besar dan lebih sulit, menjadikan rate zakat lebih kecil

KEMUNGKINAN PERUBAHAN RATE ZAKAT DI ZAMAN MODERN.

QUESTION OF RE-FIXATION OF NISAB

Due to excessive devaluation of currency in almost every country and the great difference in the value of nisab in gold, silver and animals as against that in the time of the Holy Prophet some people have urged that the religious scholars should consider re­fixation of the nisab of zakat. Nazrat Umar not only brought additional  items under zakat he also changed its rate whenever he deemed fit. Ibnu Khaldun writes: “Hazrat Umar at first fixed 10 percent as customs duty as was being done in other countries, but after some time he ordered that 10 percent duty should be charged only from those who lived in Darul Harb, 5 percent from non-­muslims and 2.5 percent from muslims”. According to Hedya the rate of zakat on horses is one dinar per horse or 5 percent of its price­. The rate of zakat as laid down by the Holy Prophet for animals was 2.5 percent. The departure here was in degree as well as in kind. Thus, a mere departure in degree would be legitimate.

Thus, in today’s context we should re-examine the provisions of zakat and see whether in the case of any of them the Muslims need to exercise their inherent right of “ijtihad” It should be clearly understood that it is the principle of zakat which is fixed and unchangeable for all times not so the details of the form. If at any time we find that the poverty of masses cannot be removed by the revenue of zakat assessed on conventional basis, there is nothing to check the Muslims from increasing the ratio of the tax or changing its form. Indeed, this would be in complete conformity with the spirit of Quran. Allah says that forms are not important. Righteousness does not lie in turning our faces towards the East or West. The principles are important. We have to practice regular charity towards certain ends.  Whatever the form which will suit the ends we must adopt it. We have to fol!ow the path which leads us to our goal and that is rooting out the evil of poverty. This has been made clear by Hazrat Ali:”Allah has ordained that the rich are to pay out of their wealth to that extent which is sufficient to the needs of the poor”.

Abdool Aziz Shaik, Concept of Zakah: A Survey of Quranic Texts and Their Explanation in Shariah and Contemporary Economics dalam Sayed Afzal Peerzade (Editor), Readings in Islamic Fiscal Policy, (Delhi: Adam Publishers & Distributors, 1996), First Edition, hlm. 15-16.

KESIMPULAN

Variabel atau faktor yang mempengaruhi penentuan kadar zakat dapat dibagi kepada Variabel Tenaga Kerja dan Kapital (Labour and Capital) dan Variabel Keahlian (Skill).

Variabel pertama, Tenaga Kerja dan Kapital (Labour and Capital). Variabel Labour dan Capital adalah sangat dominan berpengaruh. Pertama, pada zakat harta terpendam dan harta rampasan perang, rate zakatnya paling besar yaitu 20%. Hal ini disebabkan oleh karena pengeluaran/pengerahan labour dan capital-nya sangat sedikit sekali, dimana harta terpendam dan harta rampasan perang diperoleh secara tiba-tiba (accidently) dan tidak banyak memerlukan labour dan capital. Maka rate zakatnya menjadi lebih besar yaitu 20%, sesuai dengan prinsip: “The lesser the amount of labour and capital involved in the accrual of an income, the higher the rate of taxation (zakat) and conversely, therefore, the greater the amount of labour and capital the lesser the rate of the levy“.

Kedua, pada zakat hasil tanah pertanian yang diairi (irrigated land produce)  yaitu 1/10 atau 5%, akan berbeda dengan zakat hasil tanah pertanian yang tidak diairi (unirrigated land produce) yaitu 1/20 atau 10%. Perbedaan ini juga dipengaruhi oleh faktor labour dan capital yang dikeluarkan. Dimana pada zakat hasil tanah pertanian yang diairi (irrigated land produce), lebih kecil rate zakatnya yaitu hanya 1/10 atau 5% saja, hal ini karena petani telah mengeluarkan lebih besar labour dan capital untuk mengairi sawahnya. Si petani membutuhkan lebih banyak anak buah dan modal untuk membuat pengairan atau irigasi tadi. Oleh karena itu rate zakatnya menjadi lebih kecil, yaitu 1/10 atau 5 %. Pada zakat hasil tanah pertanian yang tidak diairi/ tidak diberi irigasi, berlaku ketentuan sebaliknya.

Variabel kedua, keahlian (skill). Variabel keahlian (skill) kalau digabung dikumulasikan dengan variabel labour dan capital, maka berarti expenditure untuk memperoleh bertambah beban kesulitannya. Bertambahnya tingkat kesulitan ini akan menurunkan rate zakat yang harus dikeluarkan. Hal ini berlaku pada zakat Emas/perak (gold/silver) dan barang-barang perdagangan (articles of trade) lebih kecil rate zakatnya dibanding dengan rate zakat hasil tanah pertanian dan harta terpendam, yaitu hanya 1/40 atau 2,5%. Hal ini melibatkan tidak hanya faktor labour dan capital saja, melainkan ditambah dengan variabel keahlian (skill). Akumulasi dan pembuatan emas dan perak prosesnya lebih sulit dan lebih menggunakan tidak hanya labour dan capital, juga membutuhkan keahlian (skill) dibandingkan dengan expenditure dalam menanam padi atau  jagung. Demikian juga halnya dengan seorang pedagang, disamping lebih banyak mengeluarkan capital dan labour, juga memerlukan ‘intelegensi’ untuk mengelola perdagangan, bahkan lebih besar menghadapi resiko kerugian. Oleh karena itu, maka rate zakat emas/perak dan barang-barang perdagangan, lebih kecil dibandingkan yang lainnya, yaitu hanya 1/40 atau 2, 5 % saja.

Dari perhitungan kadar zakat sebagaimana diuraikan di atas, muncul angka-angka ‘arithmetical progression‘ yang sangat rasional yaitu:

1/40

1/20

1/10

1/5

Secara normatif hukum Islam, logika-logika ekonomi di atas, kalau dihubungkan dengan kaidah ushul al-fiqh maka akan sesuai dengan kaidah yang mengatakan :

المشقة تجلب التيسير

“Kesulitan itu akan memberikan konpensasi berupa kemudahan”

Maka kesimpulannya adalah bahwa logika ekonomi dan logika kaidah ushul al-fiqh dalam penentuan kadar zakat adalah saling menguatkan satu sama lain.

DAFTAR PUSTAKA

Abdool Aziz Shaik, Concept of Zakah: A Survey of Quranic Texts and Their Explanation in Shariah and Contemporary Economics, First Edition,  Adam Publishers & Distributors, Delhi, 1996.

Abu Azka, Lukman Mohammad Baga, Sari Penting Kitab Fiqh Zakat Yusuf al-Qaradhawi, Dept. of Agr. Economics and Business, Massey University Palmerston North, New Zealand, tt.

Abudurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala Mazahib al-Arba’ah, Cet. 3 Jilid 4, Matba’ah al-Istiqamah, Kairo:  tt.

Muhammad Hasbi Ash Shiddiqi, Pedoman Zakat, PT. Pustaka Rizki Putra Semarang, 2005.

Sayed Afzal Peerzade (Editor), Readings in Islamic Fiscal Policy, Adam Publishers & Distributors, Delhi: 1996.

Wahbah al-Zuhaili, Fiqh Zakat Dalam Dunia Modern, Alih Bahasa Aziz Masyhuri , Bintang,  Surabaya,  2001.


[1] Wahbah al-Zuhaili, Fiqh Zakat Dalam Dunia Modern, Alih Bahasa Aziz Masyhuri (Surabaya: Bintang 2001), hlm. 1; Abudurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala Mazahib al-Arba’ah (Kairo: Matba’ah al-Istiqamah, tt) Cet. 3 Jilid 4, hlm. 95

[2] Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-Arba’ah (Kairo: Mathba’ah al-Istiqamah, tt), Cet. 3, Jilid IV, hlm. 95

[3] Abu Azka, Lukman Mohammad Baga, Sari Penting Kitab Fiqh Zakat Yusuf al-Qaradhawi, (New Zealand :Dept. of Agr. Economics and Business, Massey University Palmerston North), hlm. 9-11

[4] Disarikan dari buku tulisan Muhammad Hasbi Ash Shiddiqi, Pedoman Zakat, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2005), hlm. 164-222

[5]S.A. Siddiqi, Zakat, dalam Sayed Afzal Peerzade (Editor), Readings in Islamic Fiscal Policy, (Delhi: Adam Publishers & Distributors, 1996), First Edition, hlm. 27-30.

[6]S.A. Siddiqi, Zakat, dalam Sayed Afzal Peerzade (Editor), Readings in Islamic Fiscal Policy, (Delhi: Adam Publishers & Distributors, 1996), First Edition, hlm. 27-30.

­L = Labour (Buruh),  C= Capital (Modal)

­ S= Skill (Keahlian)


Aksi

Information

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: